Kategori
Apa Saja (30)
Artikel (8)
Blog (20)
Coretan (1)
Games (1)
Joomla / Mambo (5)
Lamunan (5)
Resensi (8)
Tulisan Terakhir
Komentar Terakhir
Cinta ini Membunuhku...
thx untuk infonya ttg lirik lagu andra &...
20/07/08 00:31, 00:31 >>>
Komentar Oleh: raddith

Tips untuk Remaja IT
cinta tuh jahat cinta tuh indah bgt ci...
19/07/08 12:47, 12:47 >>>
Komentar Oleh: adam

Aneka Cara Download Video Yout...
coba software ini... di jamin maknyussss...
19/07/08 11:50, 11:50 >>>
Komentar Oleh: wonk

Download Multiply Music Disabl...
tetep gak bisa bos..... ada caara l...
17/07/08 04:01, 04:01 >>>
Komentar Oleh: girineville

Masih Pedulikah ???
karena wanita ingin dimengerti mas bukan...
08/07/08 16:20, 16:20 >>>
Komentar Oleh: wulan

Afiliasi

      Alumni-Smansa
      CyberMandiri
      Dannis Moslem Wear
      GameQuarters
      NamaKamu
      UD. Jati Alam

Blogroll

      Alixwijaya

      Anangku

      Cempluk

      Dedek

      Edi Psw

      Gempur

      Jufri.Info

      Khuclukz

      Rahardja

      Rizky Blog

      TikaBanget

      Xarom


Komunitas Joomla Indonesia
Depan arrow Resensi arrow Kedudukan Niat dalam Beramal
Kedudukan Niat dalam Beramal PDF Print E-mail
(8 Penilaian)
Ditulis Oleh: Zety   
Senin, 08 Januari 2007

 

Niat merupakan barometer untuk meluruskan amal perbuatan.
Apabila niat baik, maka amalan menjadi baik. Sebaliknya, bila niat rusak, amalan juga akan rusak.

Hal ini sesuai dengan hadits Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam: “Dari Amiril Mukminin
Abu Hafs Umar ibn Khottob Radhiyallohu‘anhu bahwasanya dia berkata: Aku mendengar
Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya segala amalan itu
tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan
niatnya. Maka barangsiapa yang hijrah-nya karena Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya
dinilai kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang
hendak didapatkannya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya
dinilai sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)[1].

An-Niyyaatu adalah bentuk jamak dari niyyatun, artinya tujuan. Dengan ungkapan yang
lebih luas: Niat adalah tergeraknya hati menuju apa yang dianggapnya sesuai dengan
tujuan baik berupa perolehan manfaat atau pencegahan mudarat.

Niat mengandung dua makna:
1. Bermakna pemisahan –-ibadah satu dengan lainnya misalnya, pemisahan antara
sholat Dhuhur dan Ashar, atau pembedaan antara ibadah dan adat (‘Urf)—seperti juga
pembedaan antara mandi janabat dengan mandi biasa. Niat dengan makna seperti ini
banyak dijumpai dalam kitab-kitab fiqh para fuqoha. Perbedaan yang sering muncul
dalam masalah niat (dalam pengertian ini) adalah masalah haruskah niat itu
dilafalkan atau kah cukup dalam hati.

Para ulama telah banyak menjelaskan mengenai masalah ini, seperti Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-‘Utsaimin,beliau berkata:”Dalam semua amalan, niat tempatnya dihati, bukan
dilidah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengucapkan niat dengan lisan ketika
hendak sholat, puasa, haji, wudhu, atau amalan yang lain, maka dia telah melakukan
kebid’ahan,mengamalkan sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama Alloh. Hal itu
karena Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam ketika berwudhu, shalat, bersedekah,
berpuasa, dan berhaji tidak pernah mengucapkan niat dengan lisan, karena niat memang
tempatnya di hati.”[2] Memang niat merupakan amalan hati[3] yang tidak perlu untuk
diucapkan, apabila kita ber-wudhu atau akan sholat maka inilah niat (amalan hati,
terwujud dalam per-buatan), tidak mungkin bagi orang yang berakal dan tidak dipaksa
melakukan sesuatu (entah itu amal yang baik maupun buruk) kecuali sudah dia niatkan.
Oleh karena itu sebagian ahli ilmu mengatakan:” Kalaulah Alloh membebankan kamu
suatu pekerjaan tanpa niat, pastilah pembebanan itu sesuatu yang tidak dapat
dikuasainya”.
2. Niat bermakna pembedaan maksud seseorang dalam beramal. Apakah semata-mata
karena Alloh, atau karena yang lainnya, atau karena bersamaan dengan lainnya.
Maksudnya ada manusia yang beramal ikhlas karena Alloh, ada yang ingin dilihat dan
dipuji orang lain, ada juga yang beramal supaya dipuji orang sekaligus memperoleh
ridho dari Alloh. Bagi orang yang beramal hanya karena mengharapkan ridho Alloh
semata dengan diiringi rasa raja’ (berharap) dan khauf (takut –akan siksaannya,pen)
itulah orang-orang yang ikhlas [4].

Keikhlasan inilah point penting dalam setiap amalaliah perbuatan kita sekecil apapun
itu. Ikhlas merupakan hakikat agama Islam, inti peribadatan seorang hamba, syarat
diterimanya amal dan merupakan dakwahnya para Rosulullah. Tanpa keikhlas-an amal
kita tidak ada artinya apa-apa. Dan untuk itulah, Alloh memerintahkan kita untuk
menjalankan agama yang lurus dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya semata.
Sebagaimana dalam firman-Nya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
(QS.Al-Bayyinah : 5)
Ayat ini mengisyaratkan kita dalam beramal hendaknya
memperhatikan keikh-lasan niat kita dan sesuai dengan
petunjuk agama-Nya yang lurus (sesuai dengan syari’at).

Bagi orang-orang yang beramal kepada selain Alloh ada
beberapa macam:
o Amalan riya’ semata-mata. Yaitu tidak dilakukan melainkan hanya supaya
dilihat oleh makhluq karena tujuan duniawi. Maka amalan ini jelas tidak akan
memberikan arti apa-apa dihadapan Alloh. Bahkan riya’ merupakan syirik ashghar
(syirik kecil). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Sesungguhnya yang
paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil, para sahabat bertanya, apa
yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasulullah menjawab,dia adalah riya”.[5]

o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai riya’ dari asalnya, maka
amalan seperti ini salah (bathil) dan terhapus (tidak mendapatkan pahala apapun
disisi Alloh, bahkan berdosa). Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, bahwasanya
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ber- sabda: “Alloh Tabaraka Wata’aala
berfirman:”Aku paling tidak butuh kesyirikan. Maka barangsiapa yang melakukan amalan
yang mempersekutukan antara Aku dan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan
kesyirikannya.”[6]

o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai niat lain selain riya’.
Contohnya : jihad fisabilillah hanya karena Alloh dan karena menghendaki harta
rampasan perang, maka amalan seperti ini berkurang pahalanya, dan tidak sampai batal
dan terhapus. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Tidak ada seorangpun
yang berjihad di jalan Alloh kemudian mendapatkan ghanimah melainkan telah
menyegerakan dua pertiga pahala mereka diakhirat dan tinggal bagi mereka
sepertiganya, dan jika tidak mendapatkan ghanimah maka mereka mendapatkan pahala
yang sempurna.”[7]

o Amalan yang asalnya ditujukan bagi Alloh kemudian terbesit riya’
ditengah-tengahnya, maka amalan ini terbagi menjadi dua:
o Jika riya’ tersebut terbesit sebentar dan segera dihalau maka riya’
tersebut tidak berpengaruh apa-apa.
o Jika riya’ tersebut selalu menyertai amalannya maka yang rojih dari
pendapat ulama adalah amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana
dinukil pendapat ini dari Imam Hasan Al-Bashri.

Adapun jika seseorang beramal ikhlas karena Alloh kemudian mendapat pujian
sehingga dia merasa senang dengan pujian tersebut, maka hal ini tidak
berpengaruh apa-apa terhadap amalannya sebagaimana dalam hadits Abu Dzar
Radhiyallohu‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ditanya
seseorang yang beramal karena Alloh kemudian dipuji oleh manusia, maka
beliau menjawab:”Itu adalah khabar gembira yang disegerakan bagi seorang
mu’min.”[8]

Imam Hasan Al-Banna berkata, “Ikhlas adalah seorang akh Muslim yang bermaksud dengan
kata-katanya, amalnya dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Alloh, untuk mencari
ridho Alloh dan balasan yang baik dari Alloh dengan tanpa melihat kepada keuntungan,
bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi
tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”[9]

Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas:
1. Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal
2. Menambah pengetahuan tentang Allah swt dan hari kiamat. Dengan mengetahui
ilmu tentang-Nya, maka seseoang mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya tentulah
tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam
niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di
akhirat.
3.Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan al-Qur’an, karena al-Quran adalah
penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub,
dan sum’ah.
4. Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena
Allah semata tanpa diketahui orang lain.
5. Menghindari / mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang
orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong.
6.Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari
syirik. Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw : “Allahumma innii a’udzubika
annusyrikabika syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku
berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku
memohon ampun ke-pada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)[10]

Akhi fillah, setelah kita memahami esensi dari sebuah kelurusan niat dalam setiap
amal kita, mari kita bersama senantiasa menjaga kelurusan niat-niat kita. Amal
sekecil apapun itu dan siapapun kita, maka Alloh melihat hati kita dan amal
perbuatan kita bukan yang lain. Tanda-tanda keikhlasan bagi seorang da’I nampak dari
dirinya yang tidak menginginkan sesuatu dari dakwah ini kecuali karena Alloh semata.
Ia tidak ingin mendapatkan status sosial yang tinggi. Ia tidak banyak memikirkan
apakah posisinya tinggi atau tidak dikenal di antara manusia. Dia tidak merasa
peduli dengan manusia dan sanjungan dari mereka. Ia tidak berusaha untuk mendapatkan
rasa takjub dari mereka. Ia tidak mengharap pujian dan penghormatan dari mereka. Hal
ini tidak berarti bahwa dia berharap untuk mendapat celaan dari manusia atau
prasangka buruk dari mereka.

 

Tidak begitu. Tetapi seyogyanya ia menapaki jalan
dakwah pada jalan yang lurus dan tidak mengharapkan kecuali pahala dari Alloh
semata. Dia tidak berusaha untuk mendapatkan keuntungan berupa harta yang banyak
dari dakwah ini. Sebab alangkah jeleknya orang yang mengira bahwa dirinya hanya
menghendaki Alloh dan keridhaan-Nya, padahal sebenarnya mereka hanya mengharapkan
kepada dinar dan dirham. Keikhlasan seorang da’I menjelma dalam sikapnya yang merasa
gembira apabila tercapai keberhasilan dari tangan orang lain sebagaimana dia merasa
gembira kalau keberhasilan itu dicapai dengan tangannya sendiri. Dia tetap akan
melakukan amalnya walaupun harus ditinggalkan sendirian oleh saudaranya, karena di
yakin Alloh bersamanya. Jika ini terjadi dalam diri kita, maka karakter kader dakwah
yang muntij (produktif), insya Alloh akan muncul dalam diri kita. Teruslah beramal
dengan ilmu dan kelu-rusan niat.

Wallahu musta’an.

 




   Komentar (1)
1. Ditulis oleh Alamat Email inidilindungi dari bot spam, Anda Harus Mengaktifkan Javascript Untuk Melihatnya , pada 26-10-2007 10:55, 10:55 , IP: 125.162.94.111
:? :? :?  
:) :) :) :) :) :) :) :) :)  
saya seorang mahasiswa di perguruan tinggi negeri di riau, ulasan ini bermamfaat sekali bagi diri saya,cukup bagus tapi masih kurang detail dalam memberikan pengertian yang mendetail tentang niat itu sendiri, semesti nya juga secara bahasa dan istilah juga dimasukkan, biar orang yang masih awam tentang masalah ini juga bisa cepat dapat memahaminya....... 
sekian... 
wasallam  
:roll :roll :roll :roll :roll Page Title

Beri Komentar untuk Topik ini
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Website:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved