Laksana seekor burung, gwa hanya bisa terbang berputar-putar di tempat yang sama. Nggak beranjak. Melihat dunia lainpun seperti tak pernah. Gwa terlalu statik. Terlalu asyik dengan duniaku sendiri.
Terkadang ingin sekali lepas dari itu. Melawan semua ke-egoanku. Terbang lepas melewati dan mengarungi gunung dan samudera. Melintas dan menikmati indahnya dunia yang tak pernah terjamah sebelumnya. Mengibaskan sayap² ini selepas mata memandang. Sebebas yang kuinginkan.
Tapi semua itu masih sebatas diangan. Melepaskan jeratan ini sungguh² sulit. Sayap ini masih terlalu berat untuk dikibaskan, bahkan untuk digerakkan.
Lalu kapan jeratan² ini dapat kubuang jauh? sementara waktu tak kan pernah mau diajak kompromi. Karena pulalah waktu yang tak mungkin bisa kembali. Bahkan sedetikpun ia tak kan mau berdetak mundur.
Menikmati ke-egoanku? ah, tidak. Ini kenikmatan semu. Sesaat. Karena diluar sana ada hal yang lebih indah dari semua ini. Terkadang jika ingin lepas dari itu, gwa akan berkata “besok”. Tapi tak pernah yang mengerti kata “besok”. Karena hari ini adalah hari ini. Pun hari ini juga pernah dikatakan dengan “besok”.
Sudah terlalu banyak dengan “besok”. Bahkan sudah terlalu muak dengan “besok”. Karena dia tak pernah ada ujungnya. Ah, gwa harus bangkit lagi. Membuka lebar sayapku, mengepalkan kedua tanganku, dan meninggalkan semua egoku.
Kesendirian memang tak selalu berarti kesepian. Tapi kesendirian akan hanya berujung pada suatu ketidakpastian…
|
|
|
| Users' Comments |
|
Average user rating
|
|
Beri Komentar
|
By: Edi Psw ( IP 87.118.102.154) on 02-06-2008 09:40, 09:40