|
Kategori: Artikel
|
|
Selasa, 09 Januari 2007
|
|
Sudah banyak riset yang menyebutkan tidak efektifnya Flash intro dalam sebuah situs web. Namun, beberapa kali saya browsing situs web perusahaan Indonesia, masih banyak yang menggunakan intro ini. Flash Intro adalah sebuah pembukaan dalam bentuk Flash yang menyapa kita setiap kali kita membuka sebuah situs web. Bagi kebanyakan pengunjung, hal ini menjengkelkan.
Pertama, situs tersebut memaksa pengunjung untuk menginstall Flash player (jika browsernya belum dilengkapi dengan tool itu).
Kedua, pengunjung dipaksa melihat intro tersebut setiap kali masuk ke situs tersebut. Memang intro itu bisa diabaikan (skip), tetapi pengunjung tetap harus berjuang ekstra untuk mengklik tombol skip.
Sayang, kejengkelan pengunjung ini masih saja diabaikan oleh banyak pemilik situs, terutama situs korporat.
Ketika seorang rekan akan membangun situs korporatnya, dengan bersemangat ia menceritakan pentingnya flash intro. “Dengan flash intro ini, tema situs web dan promo yang sedang dilakukan segera terlihat oleh pengunjung begitu membuka situs web,”katanya.
Jika saja disampaikan tiga tahun lalu, argumen itu tidak mengejutkan saya. Tapi sekarang? Di saat banyak riset menunjukkan flash intro adalah barang yang mengganggu? Oh my God. Saya terpaksa tulis ulang hal ini.
Pada November 2003 Marketing Sherpa menunjukkan hasil survei yang saat itu terasa mengejutkan, yaitu 80% konsumen membenci flash intro. Sebanyak 579 responden memberikan komentarnya, dan sebagian besar merasa flash intro adalah sesuatu yang mengganggu dan menghambat mereka untuk mendapatkan langsung informasi yang mereka perlukan.
Lalu sebagai solusinya? Banyak situs web menawarkan pilihan “Skip Intro”. Ini jelas solusi “maksa”. Kalau memang intro ini harus di-skip, lalu untuk apa intro ini dibuat dengan susah-payah? Apalagi faktanya: skip intro adalah button yang paling banyak diklik oleh pengguna Internet.
Padahal jika tujuannya adalah supaya mudah dilihat oleh pengunjung, banyak solusinya. Antara lain dengan layout dan navigasi yang benar. Tetapi tampaknya banyak pemilik situs web yang malas memikirkan cara yang lebih disukai oleh pengunjung. Mereka lebih memilih pendekatan marketing tradisional: seolah-olah pengunjung web bisa dibombardir iklan seperti di teve. Siapa sih yang suka melihat iklan yang sama berulang-ulang di teve? Hal yang sama bisa ditanyakan di web: siapa sih yang suka melihat flash intro yang sama berulang-ulang?
Pengunjung situs web biasanya tidak sabar ketika mereka melakukan browsing. “Tidak peduli betapa kerennya sebuah situs web, bila user merasa tidak praktis mereka akan pindah ke situs kompetitor,” kata Theresa Cunnington, senior usability consultant pada iFocus seperti yang dikutip dari InfoWorld. Dalam hal ini flash intro adalah contoh yang paling tidak disukai pengunjung ketika berkunjung ke situs web. “Flash animations are an obvious, yet stellar, example of what users hate in a Web site; the skip intro button is the most used button on the Internet.”
Sangat jelas bukan? Jadi, mengapa masih bandel juga bikin flash intro yang menghalangi pengunjung masuk ke situs kita?
Source: Nukman Luthfie Blog
Komentar (3) | Selengkapnya...
|
|
|
Kedudukan Niat dalam Beramal
|
|
Kategori: Resensi
|
|
Senin, 08 Januari 2007
|
Niat merupakan barometer untuk meluruskan amal perbuatan. Apabila niat baik, maka amalan menjadi baik. Sebaliknya, bila niat rusak, amalan juga akan rusak. Hal ini sesuai dengan hadits Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam: “Dari Amiril Mukminin Abu Hafs Umar ibn Khottob Radhiyallohu‘anhu bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang hijrah-nya karena Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak didapatkannya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)[1].
An-Niyyaatu adalah bentuk jamak dari niyyatun, artinya tujuan. Dengan ungkapan yang lebih luas: Niat adalah tergeraknya hati menuju apa yang dianggapnya sesuai dengan tujuan baik berupa perolehan manfaat atau pencegahan mudarat.
Niat mengandung dua makna: 1. Bermakna pemisahan –-ibadah satu dengan lainnya misalnya, pemisahan antara sholat Dhuhur dan Ashar, atau pembedaan antara ibadah dan adat (‘Urf)—seperti juga pembedaan antara mandi janabat dengan mandi biasa. Niat dengan makna seperti ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab fiqh para fuqoha. Perbedaan yang sering muncul dalam masalah niat (dalam pengertian ini) adalah masalah haruskah niat itu dilafalkan atau kah cukup dalam hati.
Para ulama telah banyak menjelaskan mengenai masalah ini, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin,beliau berkata:”Dalam semua amalan, niat tempatnya dihati, bukan dilidah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengucapkan niat dengan lisan ketika hendak sholat, puasa, haji, wudhu, atau amalan yang lain, maka dia telah melakukan kebid’ahan,mengamalkan sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama Alloh. Hal itu karena Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam ketika berwudhu, shalat, bersedekah, berpuasa, dan berhaji tidak pernah mengucapkan niat dengan lisan, karena niat memang tempatnya di hati.”[2] Memang niat merupakan amalan hati[3] yang tidak perlu untuk diucapkan, apabila kita ber-wudhu atau akan sholat maka inilah niat (amalan hati, terwujud dalam per-buatan), tidak mungkin bagi orang yang berakal dan tidak dipaksa melakukan sesuatu (entah itu amal yang baik maupun buruk) kecuali sudah dia niatkan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu mengatakan:” Kalaulah Alloh membebankan kamu suatu pekerjaan tanpa niat, pastilah pembebanan itu sesuatu yang tidak dapat dikuasainya”. 2. Niat bermakna pembedaan maksud seseorang dalam beramal. Apakah semata-mata karena Alloh, atau karena yang lainnya, atau karena bersamaan dengan lainnya. Maksudnya ada manusia yang beramal ikhlas karena Alloh, ada yang ingin dilihat dan dipuji orang lain, ada juga yang beramal supaya dipuji orang sekaligus memperoleh ridho dari Alloh. Bagi orang yang beramal hanya karena mengharapkan ridho Alloh semata dengan diiringi rasa raja’ (berharap) dan khauf (takut –akan siksaannya,pen) itulah orang-orang yang ikhlas [4].
Keikhlasan inilah point penting dalam setiap amalaliah perbuatan kita sekecil apapun itu. Ikhlas merupakan hakikat agama Islam, inti peribadatan seorang hamba, syarat diterimanya amal dan merupakan dakwahnya para Rosulullah. Tanpa keikhlas-an amal kita tidak ada artinya apa-apa. Dan untuk itulah, Alloh memerintahkan kita untuk menjalankan agama yang lurus dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya semata. Sebagaimana dalam firman-Nya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS.Al-Bayyinah : 5) Ayat ini mengisyaratkan kita dalam beramal hendaknya memperhatikan keikh-lasan niat kita dan sesuai dengan petunjuk agama-Nya yang lurus (sesuai dengan syari’at).
Bagi orang-orang yang beramal kepada selain Alloh ada beberapa macam: o Amalan riya’ semata-mata. Yaitu tidak dilakukan melainkan hanya supaya dilihat oleh makhluq karena tujuan duniawi. Maka amalan ini jelas tidak akan memberikan arti apa-apa dihadapan Alloh. Bahkan riya’ merupakan syirik ashghar (syirik kecil). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil, para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasulullah menjawab,dia adalah riya”.[5]
o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai riya’ dari asalnya, maka amalan seperti ini salah (bathil) dan terhapus (tidak mendapatkan pahala apapun disisi Alloh, bahkan berdosa). Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ber- sabda: “Alloh Tabaraka Wata’aala berfirman:”Aku paling tidak butuh kesyirikan. Maka barangsiapa yang melakukan amalan yang mempersekutukan antara Aku dan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”[6]
o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai niat lain selain riya’. Contohnya : jihad fisabilillah hanya karena Alloh dan karena menghendaki harta rampasan perang, maka amalan seperti ini berkurang pahalanya, dan tidak sampai batal dan terhapus. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Tidak ada seorangpun yang berjihad di jalan Alloh kemudian mendapatkan ghanimah melainkan telah menyegerakan dua pertiga pahala mereka diakhirat dan tinggal bagi mereka sepertiganya, dan jika tidak mendapatkan ghanimah maka mereka mendapatkan pahala yang sempurna.”[7]
o Amalan yang asalnya ditujukan bagi Alloh kemudian terbesit riya’ ditengah-tengahnya, maka amalan ini terbagi menjadi dua: o Jika riya’ tersebut terbesit sebentar dan segera dihalau maka riya’ tersebut tidak berpengaruh apa-apa. o Jika riya’ tersebut selalu menyertai amalannya maka yang rojih dari pendapat ulama adalah amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana dinukil pendapat ini dari Imam Hasan Al-Bashri. Adapun jika seseorang beramal ikhlas karena Alloh kemudian mendapat pujian sehingga dia merasa senang dengan pujian tersebut, maka hal ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap amalannya sebagaimana dalam hadits Abu Dzar Radhiyallohu‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ditanya seseorang yang beramal karena Alloh kemudian dipuji oleh manusia, maka beliau menjawab:”Itu adalah khabar gembira yang disegerakan bagi seorang mu’min.”[8]
Imam Hasan Al-Banna berkata, “Ikhlas adalah seorang akh Muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Alloh, untuk mencari ridho Alloh dan balasan yang baik dari Alloh dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”[9]
Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas: 1. Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal 2. Menambah pengetahuan tentang Allah swt dan hari kiamat. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya, maka seseoang mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di akhirat. 3.Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan al-Qur’an, karena al-Quran adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah. 4. Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain. 5. Menghindari / mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong. 6.Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw : “Allahumma innii a’udzubika annusyrikabika syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku memohon ampun ke-pada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)[10]
Akhi fillah, setelah kita memahami esensi dari sebuah kelurusan niat dalam setiap amal kita, mari kita bersama senantiasa menjaga kelurusan niat-niat kita. Amal sekecil apapun itu dan siapapun kita, maka Alloh melihat hati kita dan amal perbuatan kita bukan yang lain. Tanda-tanda keikhlasan bagi seorang da’I nampak dari dirinya yang tidak menginginkan sesuatu dari dakwah ini kecuali karena Alloh semata. Ia tidak ingin mendapatkan status sosial yang tinggi. Ia tidak banyak memikirkan apakah posisinya tinggi atau tidak dikenal di antara manusia. Dia tidak merasa peduli dengan manusia dan sanjungan dari mereka. Ia tidak berusaha untuk mendapatkan rasa takjub dari mereka. Ia tidak mengharap pujian dan penghormatan dari mereka. Hal ini tidak berarti bahwa dia berharap untuk mendapat celaan dari manusia atau prasangka buruk dari mereka. Tidak begitu. Tetapi seyogyanya ia menapaki jalan dakwah pada jalan yang lurus dan tidak mengharapkan kecuali pahala dari Alloh semata. Dia tidak berusaha untuk mendapatkan keuntungan berupa harta yang banyak dari dakwah ini. Sebab alangkah jeleknya orang yang mengira bahwa dirinya hanya menghendaki Alloh dan keridhaan-Nya, padahal sebenarnya mereka hanya mengharapkan kepada dinar dan dirham. Keikhlasan seorang da’I menjelma dalam sikapnya yang merasa gembira apabila tercapai keberhasilan dari tangan orang lain sebagaimana dia merasa gembira kalau keberhasilan itu dicapai dengan tangannya sendiri. Dia tetap akan melakukan amalnya walaupun harus ditinggalkan sendirian oleh saudaranya, karena di yakin Alloh bersamanya. Jika ini terjadi dalam diri kita, maka karakter kader dakwah yang muntij (produktif), insya Alloh akan muncul dalam diri kita. Teruslah beramal dengan ilmu dan kelu-rusan niat. Wallahu musta’an.
Komentar (1) | Selengkapnya...
|
|
|
Kategori: Resensi
|
|
Senin, 08 Januari 2007
|
|
Kita ditantang untuk bekerja tanpa mengenal lelah agar dapat meraih keunggulan dalam pekerjaan kita.
Tak semua orang terpanggil untuk menekuni pekerjaan profesional atau spesialisasi; bahkan lebih sedikit lagi yang naik ke tingkat kejeniusan dalam seni dan ilmu; banyak yang menjadi pekerja di pabrik, ladang, dan jalanan. Tapi, tak ada pekerjaan yang tak berarti.
Semua pekerjaan yang mengangkat kemanusiaan itu memiliki martabat dan
kepentingan, dan harus dilaksanakan dengan keunggulan yang sungguh-sungguh.
Kalau seseorang menjadi penyapu jalan, ia semestinya menyapu seperti Michaelangelo melukis atau Beethoven menggubah musik, atau Shakespeare menulis syair.
Ia semestinya menyapu jalan begitu baik sehingga semua penghuni langit
dan bumi sejenak berhenti untuk berkata, "Di sini hidup seorang
penyapu jalan yang hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan baik."
~Marthin Luther King Jr.~
Komentar (0) | Selengkapnya...
|
|
|
Kategori: Resensi
|
|
Minggu, 07 Januari 2007
|
|
Berikut merupakan beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari binatang yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ini memang bukan kajian ilmiah yang mendalam, hanya merupakan kajian awam dan sepintas, namun bukan berarti dan belum tentu makna serta hikmahnya sesederhana apa yang kita pikirkan.
Cicak: merupakan makhluk yang menempel di dinding. Makanannya nyamuk yang beterbangan. Dalam kondisi dan keadaan seperti itu, cicak tidak pernah terlihat stress dan berputus asa dalam mencari rezekinya. Ia sangat sabar, ulet, dan gigih. Dari cicak kita bisa belajar sikap sabar, gigih, dan tak putus asa.
Unta: merupakan makhluk yang bisa bertahan dan menempuh perjalanan di padang pasir selama berhari-hari. Ia bisa menyimpan persediaan makanan dan air dalam tubuhnya hingga berhari-hari. Sekali minum, unta bisa menghabiskan lebih dari seratus liter air. Air itu disimpan dalam tubuhnya untuk persediaan jangka panjang dan tidak hanya untuk kepuasan sesaat. Dari makhluk ini kita bisa belajar sikap hemat, tidak boros, dan rajin menabung.
Semut: Setiap kali mereka bertemu satu sama lain, mereka pasti terlihat saling menyapa atau mungkin bersalaman. Mereka tidak cuek atau acuh tak acuh terhadap sesama semut. Selain itu, mereka juga sangat kompak dalam mengerjakan sesuatu. Ketika membawa makanan menuju sarangnya, semua bekerja dan bergotong royong, tidak ada yang korupsi di tengah jalan. Dari semut kita bisa belajar tentang jiwa sosial, kerja sama, dan tanggung jawab.
Lebah: Binatang ini memakan makanan yang baik dan menghasilkan produk yang baik pula. Lebah memakan sari bunga dan kemudian menghasilkan madu. Sari bunga adalah bahan makanan yang baik dan madu adalah produk yang baik pula, bahkan menjadi obat bagi manusia. Binatang ini mengajari kita agar senantiasa menghindari segala makanan dan rezeki yang jelek dan haram agar kita bisa berbuat atau menghasilkan sesuatu yang baik.
Ayam Jago: Binatang ini berkokok di pagi hari, memberitahu makhluk lain –termasuk manusia— bahwa fajar telah tiba. Ia sangat disiplin dan semangat dalam menjalankan tugasnya. Binatang ini seolah memberitahukan dan mengajarkan kepada kita bahwa tepat waktu itu sangat penting dan memulai hari haruslah dengan semangat dan tekad yang kuat, bukan kemalasan.
Burung: Binatang ini bertasbih dengan mengepakkan atau mengembangkan sayapnya. Allah swt. berfirman, “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nur 24: 41). Burung mengajari kita agar memenuhi setiap langkah dan gerak kita dengan zikir dan tasbih kepada Allah SWT.
Source: http://suko.web.id
Komentar (0) | Selengkapnya...
|
|
|
Kategori: Resensi
|
|
Minggu, 07 Januari 2007
|
|
Ingatlah, meskipun kejujuran adalah segalanya, tidak semua orang di Internet melakukan hal tersebut.
Jadi, ketika kamu sedang menggunakan Internet atau chatting, berhati-hatilah. Kamu tidak akan pernah tahu ketika ada orang yang mengaku a/s/l (age/sex/location) - nya adalah 19/f/jkt dan mahasiswi, sebenarnya adalah 40/m/somewhere dan pengangguran.
Janganlah mudah terpengaruh dengan data-data pribadi orang lain di Internet yang menarik perhatianmu. Di Internet banyak sekali orang iseng yang berpura-pura menjadi orang lain, entah menjadi lebih muda/tua ataupun mengaku perempuan/lelaki hanya untuk bercanda dan menjahili orang lain, hingga untuk menjebak atau membuat malu orang lain.
Waspadalah dengan siapapun yang ingin tahu terlalu banyak. Tidak ada satupun aturan di dunia yang mengharuskan kamu untuk bercerita jujur tentang jati diri kamu kepada orang lain di Internet. Simpanlah baik-baik informasi tentang nama kamu, usia, alamat rumah, alamat sekolah dan nomor telepon. Jangan pedulikan permintaan dari orang yang baru kamu kenal di Internet. Percayakan pada insting kamu, jika seseorang membuat kamu tidak nyaman, tinggalkan saja.
Curahkan perasaanmu pada sahabatmu. Jika kamu berencana bertemu dengan seseorang yang kamu kenal di Internet, ajaklah sahabatmu atau orang yang kamu percaya untuk menemanimu. Mintalah juga agar orang yang akan kamu temui tersebut untuk mengajak temannya. Mungkin ini kedengarannya aneh, tetapi ini sesungguhnya adalah cara yang jitu untuk keamananmu.
Pastikan agar sahabatmu di dunia nyata mengetahui apa yang tengah kamu pikirkan atau lakukan. Bahkan jika kamu ada masalah, baik terhadap keluarga, sekolah maupun pacar, ceritakanlah pada sahabat atau orang yang kamu percaya di kehidupan nyata, bukan yang hanya kamu kenal di Internet. Bercerita kepada sahabatmu di kehidupan nyata jauh lebih baik dan lebih terpercaya daripada seseorang asing yang kamu kenal di sebuah chat room.
Jika kamu menerima kiriman e-mail, file ataupun gambar-gambar yang isinya mencurigakan dari seseorang yang kamu tidak kenal dan kamu tidak percaya, langsung hapus saja kiriman-kiriman tersebut. Perlakukan kiriman tersebut seperti layaknya sebuah e-mail sampah. Kamu bisa mendapatkan rugi yang besar hanya gara-gara mempercayai seseorang yang sama sekali belum pernah kamu temui atau kenali. Hal tersebut juga berlaku pada link atau URL yang tampak mencurigakan. Janganlah kamu meng-klik apapun yang tidak kamu yakini sumbernya dan keamanannya, walaupun dengan alasan sekedar ingin mencari jawab atas rasa keingin-tahuanmu.
Jauhi chat room atau mailing-list yang isinya provokatif ataupun berisi hal-hal negatif lainnya. Jangan mudah terperdaya rayuan-rayuan seseorang di Internet yang mencoba mempengaruhi kamu agar menjadikannya seorang teman sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari. Jangan pula mudah terpancing dengan provokasi seseorang yang memanas-manasi kamu untuk bertengkar di Internet. Jika kamu mencoba-coba mencari masalah di Internet, kamu akan mendapatkannya, dan segala sesuatunya akan lepas kendali secara cepat. Kerugianlah yang akhirnya akan kamu dapatkan. Komentar (2) | Selengkapnya...
|
|
|