|
Ketika sebuah panggilan hati tiba2 datang. Bukanlah satu hal yang mustahil kala itu. Lulus kuliah D1 di sebuah lembaga pendidikan komputer di Malang, merupakan kewajiban untuk bekerja. Orang2 selalu saja beranggapan bahwa lulus kuliah, harus bekerja. Mungkin itu sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala.  Yang menjadi kendala saat itu, "apa saya bisa?". Dengan ilmu dan pemahaman saya yang bisa dikategorikan masih 'cekak', kayaknya itu satu hal yang mustahil. Tapi nggak ada kata menyerah dalam kamusku. Selama sebulan penuh, saya lalui dengan berusaha sekuat tenaga. Memang seringkali ada sedikit keputusasaan dalam menghadapi masa2 itu. Tapi untunglah semangat untuk mencari pekerjaan sudah menjadi kata final dalam benak saya waktu itu. Hari yang saya lalui sangatlah berat dan susah. Wisuda selesai, saya nggak bisa 'ongkang2' kaki. Sudah sangat panas telinga saya mendengarkan ocehan2 tetangga yang berbau sindiran pedas. Tapi itu semakin membuat saya lebih semangat dalam berjuang. Saya putuskan untuk tetap berada di Malang agar tak jauh dari informasi. Maklum, di desa saya masih tergolong tertinggal dalam menangkap informasi2 dari luar. Halangan yang waktu itu datang adalah: "kemanakah saya harus tinggal?". Orang tua sudah memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang kost saya. Berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain, itu yang saya lakukan. Nginep di kost saudara sepupu, nggak mungkin bisa bertahan lama. Maklum, rasa sungkan orang Jawa masih tinggi. Juga nginep di kostnya temen2, harus bener2 tahan malu. Saya waktu itu bener2 seperti orang kebakaran jenggot, hanya satu yang ada dibenakku saat itu, bagaimana saya bisa dengan segera mendapatkan pekerjaan. Tiap pagi, nggak mau absen beli Jawa Pos. Dari situ dilihat dan diamati satu persatu halaman, baris perbaris tulisan. Sampai menemukan kata "LOWONGAN". Nggak cuma itu saja, sering banget ngendon di warnet buat cari2 informasi juga. Tapi mungkin Tuhan masih mau "memperhatikan" saya. Dari informasi2 yang saya peroleh, langsung saja saya buat lamarannya. Nggak tanggung2, sekali kirim bisa 3-4 lamaran langsung. Saya memang pernah mendengar sebuah kata motivasi (lupa dari siapa), yang intinya, kalau Anda mau berusaha, janganlah setengah2. Alhamdulillah, panggilan wawancara akhirnya datang dari sebuah resume yang saya kirim. Meski baru sebuah panggilan wawancara, saya sangat senang. Meski tingkat kegagalannya bisa dibilang 50-50, tapi saya hilangkan persaaan akan kegagalan. Yang ada cuma impian agar bisa diterima sebagai bagian dari mereka. [Bersambung] Komentar (7) | Selengkapnya...
|